Tag Archives: regrets

A Love Lost

Ada kata-kata bijak yang pernah aku baca di salah satu email teman.. Melukai hati seorang manusia itu bagaikan memalu paku ke pagar kayu. Walau sudah dicabut pakunya, bekas nya tak akan hilang..

Seperti itulah mungkin yang terjadi padaku.. Sebagai manusia, aku pastilah pernah melakukan kesalahan.. melakukan hal bodoh yang pada akhirnya merugikan diri sendiri. Aku pernah menjadi seorang yang sangat emosional. Meledak-ledak seperti petasan..hehe. Diriku yang muda dan naïf (bukan berarti sekarang dah tua yaa.. ;p) pernah berpikir bahwa lebih baik bersikap jujur dan blak-blakan.. Kalau tidak suka, bilang tidak suka.. kalau marah, tunjukkan kalau kita marah.. tapi kalau senang, ya aku juga tidak segan-segan tertawa lepas.. Di satu sisi, pemahaman itu membuatku tetap jujur dengan diri sendiri, serta terbuka dengan orang lain.. because I always say what’s on my mind. Menurut ku lebih baik begitu daripada memendam perasaan dan menjadi seorang hipokrit.

Namun sayang, ada hal penting yang aku lupakan.. Aku lupa kalau manusia itu punya hati.. Bodoh ya? Aku tidak berpikir bahwa keterbukaan, apabila disampaikan dengan cara yang tidak baik bisa melukai perasaan orang lain. Aku lupa bahwa perasaan, seperti pemikiran..adalah subyektif. Ungkapan perasaan yang berlebihan, justru akan menyinggung hati, apalagi bila dilandasi kesalah pahaman.

Pemahaman ku yang sempit akan keterbukaan dan kejujuran membuatku kehilangan 2 hal yang sangat penting.. Yang pertama, seorang sahabat.. Yang kedua, seseorang yang pernah dan mungkin masih kucintai. Cinta pertamaku.

Yang terakhir mungkin merupakan penyesalan terbesar sepanjang hidupku. Bisa mencintai dan dicintai mungkin adalah anugerah terbesar dari Tuhan. Sedih rasanya bila mengingat bahwa aku pernah mendapatkan anugerah tersebut kemudian menghilangkannya karena hal sepele. Sekedar karena aku tidak bisa menahan emosi cukup lama untuk mendengarkan sepotong penjelasan. Kebodohanku melukai hatinya..dan bekasnya tak pernah hilang..

Itulah titik transformasiku. Melukai dirinya membuatku ingin berubah dan mulai mengendalikan emosiku. Dia membuat ku menjadi dewasa.

Tahun-tahun berlalu.. Namun penyesalan ini tak kunjung pudar. Justru semakin besar, seiring kenyataan bahwa aku tak pernah menemukan cinta seperti dia. Aku terus mencarinya..mengharap sebuah kesempatan kedua. Dan akhirnya, beberapa bulan yang lalu, aku menemukan dirinya.

Namun sayang.. sepertinya tidak ada yang berubah.. Bahkan bertemu pun dia enggan.. Tampaknya waktu belum cukup untuk menyembuhkan luka. Puluhan kata maaf yang dulu kuucapkan tak pernah menghapus sakit hatinya. Harapan ku sia-sia..

Mungkin ini pelajaran dari Tuhan. Sehingga aku terus ingat bahwa hati manusia sangat lah berharga. Aku hanya berharap.. entah kapan.. Tuhan akan memberikan aku anugerah ke dua untuk kujaga.. walau pun mungkin bukan dengan nya..

Image from: triplefortune.wordpress.com
Advertisements